Membahas Pengertian Hingga Ciri- ciri dari Diakronik

gambar unggulan

Minat Belajar Sejarah dan Tantangan Pengembangan Komunitas Sejarah Halaman  2 - Kompasiana.com

Diakronik merupakan sebuah cara atau metode untuk berfikir yang membutuhkan ilmu sejarah sebagai dasarnya. Bukan hanya menganai nama, waktu, tempat, ilmu yang satu ini menngajarkan kita untuk bisa merasakan pengalaman dari kisah nyata dari kejadian masa lalu.

Proses untuk bisa memahami mengenai sejarah ini harus mendapatkan rekonstruksi yang objektif. Jadi untuk mengkajinya harus memakai metode dan cara berpikir secara diakronik dan sinkronik supaya semua peristiwa yang ada bisa dipahami secara komprehensif.

Pengertian Diakronik
Diakronik asalnya dari bahasa yunani “dia” yang memiliki arti melintas, melalui, melampaui, dan “chronos” yang artinya waktu. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari diakronik ini bersangkutan dengan pendekatan terhadap bahasa yang melihat perkembangan sepanjang waktu yang sifatnya historis.

Jika di lihat dari Modul Sejarah yang di susun oleh Yuliani, konsep dari diakronik ini yaitu cara beroikir sejarah yang menceritakan mengenai sebuah peristiwa yang panjang hanya dengan waktu yang terbatas pada sebuah ruang lingkup.

Diakronik juga menjadi sebuah landasan untuk mempelajari sebuah peristiwa sejarah saat mengurutkan waktu yang teratur untuk jadi sebuah proses kausalitas atau menjadi sebab akibat dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Ciri-Ciri Berpikir Diakronik
Konsep yang digunakan untuk berfikir diakronik ini punya ciri- ciri yang membedakannya dengan sinkronis, seperti berikut ini:

  • Penjelasan yang bersifat vertikal dan juga runut
  • Menekankan pada proses durasi
  • Cakupan pada kajian atau pembahasan jauh lebih luas
  • Mengurai pembahasan dalam sebuah peristiwa
  • Mengkaji kesinambungan dari sebuah peristiwa dengan yang lain
  • Memiliki konsep perbandingan

 

Cara Berpikir Diakronik dalam Sejarah

Lalu bagaimana cara berpikir secara diakronik? Untuk menerapkan konsep diakronik yang ada dalam sejarah, setidaknya butuh dua buah unsur yaitu unsur periodisasi dan kronologis.

Unsur Periodisasi

Dalam unsur yang satu ini cara yang digunakannya adalah menganalisis peristiwa sejarah yang sedang berlangsung dengan urutan tertentu pada masa lampau, contohnya adalah:

  • Di jaman praaksara menuju zaman aksara, artinya jika menggunakan kajian diakronik hal ini membahas mengenai sejarah manusia yang belum pernah mengenal tulisan sampai dengan penemuan aksara
  • Periode sejarah politik, pada zaman orde lama menuju orde yang baru, hal ini membahas mengenai peristiwa apa saja yang ada di dalam kurun waktu tersebut.

 

Unsur Kronologis

Lalu di lengkapi lagi dengan unsur kronologis yang menganalisi peristiwa sejarah yang sedang berlangsung secara teratur dari segi urutan waktu, ini dia beberapa contohnya:

  • Kronologi Pertempuran Surabaya (27 Oktober – 20 November 1945)
  • 25 Oktober 1945 – Tentara Inggris yang membonceng tentara NICA Belanda mendatangi ke Surabaya
  • 27 Oktober 1945 – Di Hotel Yamato terjadi sebuah insiden perobekan bendera Belanda untuk bagian warna biru. Terdapat juga pertempuran pertama melawan tentara dari Inggris.
  • 29 Oktober 1945 – Pihak dari Indonesia dan pihak Inggris melakukan gencatan senjata
  • 30 Oktober 1945 – Gencatan senjata ini tidak berjalan lama, jadi terdapat bentrokan sampai Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby CIE OBE, komandan (CO) Brigade Infanteri India ke-49 meninggal karena terbunuh.
  • 10 November 1945 – Jenderal Mallaby digantikan oleh Jenderal Eric Carden Robert Mansergh sekaligus mengeluarkan sebuah ultimatum untuk meminta Indonesia menyerahkan senjata dan harus menghentikan perlawanan
  • 10 November 1945 – Ultimatum tersebut diabaikan oleh masyarakat Surabaya, kemudan tentara Inggris melakukan serangan yang sangat besar.

Nah jadi dalam mempelajari konsep diakronik ini bisa membuat kita faham mengenai perkembangan waktu ke waktu, kemungkinan pengulangan fenomena, relasi antar periode, dan perubahan dari periode awal dan juga periode yang berikutnya.